Kolaborasi Tanpa Batas: Bagaimana Jatim Mengamankan Nyepi dan Lebaran dalam Satu Napas


Di tengah kesibukan rutinitas tahunan, Polda Jawa Timur mengambil terobosan dengan menginisiasi pertemuan akbar lintas sektoral di Gedung Mahameru. Bukan sekadar rapat biasa, pertemuan yang dipimpin Kapolda Irjen Nanang Avianto ini adalah sebuah deklarasi bersama bahwa keamanan adalah milik semua. Mengundang tokoh agama, Forkopimda, hingga instansi vertikal, Polda ingin memastikan bahwa tidak ada satu pihak pun yang berjalan sendiri-sendiri. Terlebih, tantangan tahun ini unik karena harus mengamankan dua hari besar keagamaan dalam waktu yang hampir berbarengan.

Irjen Nanang menjelaskan, esensi Operasi Ketupat Semeru 2026 jauh melampaui urusan kelancaran lalu lintas. Operasi ini, katanya, adalah sebuah gelar besar pelayanan publik yang menyentuh ranah fundamental, yakni spiritual dan sosial. Selama 13 hari pelaksanaan, aparat akan disebar untuk memastikan umat Hindu dapat merayakan Nyepi dengan khusyuk tanpa gangguan, dan para pemudik dapat merayakan Idul Fitri bersama keluarga dengan selamat. Ini adalah tugas mulia yang membutuhkan energi dan pemikiran ekstra dari semua unsur.

Dalam arahannya, Kapolda mengajak semua pihak untuk melihat momen ini sebagai peluang memperkuat persatuan. Ketika masyarakat melihat TNI, Polri, dan pemerintah daerah bergandengan tangan, rasa percaya dan aman akan tumbuh dengan sendirinya. Sinergi yang solid akan memastikan arus mudik dan balik terkendali, serta situasi kamtibmas tetap kondusif. "Mari kita buktikan bahwa kita mampu," ajak Irjen Nanang, menyemangati seluruh peserta rapat untuk bekerja dengan hati.

Dengan berakhirnya rakor ini, babak baru persiapan dimulai. Polda Jatim bersama seluruh stakeholder yang hadir kini memiliki peta jalan yang jelas untuk mengamankan bulan Maret 2026. Optimisme terpancar dari wajah para peserta, karena mereka tahu bahwa dengan kolaborasi tanpa batas, tidak ada tantangan yang terlalu berat. Semua berharap, Operasi Ketupat Semeru tahun ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga menjadi simbol harmoni dan toleransi di Jawa Timur.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar