Di balik program besar Ketahanan Pangan Nasional, ada kerja-kerja kecil yang jarang diliput media. Salah satunya terjadi di Desa Plosoharjo, Pace, Nganjuk, pada Kamis, 9 April 2026. Bripka Puguh Puji Santoso, Bhabinkamtibmas Polsek Pace, Polres Nganjuk, memilih duduk di pematang sawah bersama petani. Bukan untuk interogasi atau penangkapan, melainkan untuk mendengarkan. Ia melakukan pemantauan sekaligus asistensi pertanian, memastikan pengelolaan lahan berjalan baik, dan mencatat semua kendala yang dihadapi warga. Ini adalah wajah polisi yang jarang terlihat: sabar, empatik, dan peduli pada pangan.
Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa peran Bhabinkamtibmas sebagai pendengar sangat krusial. "Banyak masalah keamanan lahir dari masalah ekonomi yang tidak terselesaikan. Dengan mendengarkan keluhan petani, kami bisa melakukan pencegahan dini," ujarnya. Dalam dialog itu, petani bercerita tentang mahalnya pupuk, sulitnya air, dan serangan hama yang tidak kunjung reda. Bripka Puguh tidak bisa memberikan solusi instan, tapi ia berjanji akan meneruskan semua keluhan ke Polsek Pace, yang kemudian akan berkoordinasi dengan dinas pertanian. Janji itu diucapkan dengan serius, bukan basa-basi.
AKP Pujo Santoso, Kapolsek Pace, menambahkan bahwa pendekatan dialogis seperti ini menjadi andalan Polsek Pace dalam membangun kedekatan dengan warga. "Kami tidak ingin Bhabinkamtibmas hanya datang, foto, lalu pergi. Mereka harus duduk, mendengar, dan menindaklanjuti. Bripka Puguh adalah contoh bagus," jelasnya. Bripka Puguh sendiri mengaku bahwa dari dialog itulah ia menemukan semangat baru. "Petani itu pekerja keras yang sering tidak dihargai. Kehadiran saya setidaknya membuat mereka tahu bahwa polisi juga peduli pada perjuangan mereka. Itu lebih berharga daripada sekadar laporan tertulis," ungkapnya.
Penutup dari aksi polisi di pematang sawah ini adalah tentang nilai sederhana: mendengarkan. Polres Nganjuk melalui Bripka Puguh menunjukkan bahwa kadang, tugas terberat seorang polisi bukanlah menembak atau menangkap, melainkan duduk diam dan membiarkan orang lain bercerita. Dengan dialog yang tulus, ketahanan pangan bukan lagi konsep abstrak, melainkan percakapan hangat antara polisi dan petani di tengah hamparan hijau. Di Pace, setidaknya, polisi sudah membuktikan bahwa mereka bisa menjadi telinga bagi yang paling membutuhkan. (Avs)


0 Komentar