Paralon Berjajar, Bawang Tumbuh Subur: Bhabinkamtibmas Tanjunganom Buktikan Urban Farming Solusi Lahan Sempit


Di Kelurahan Tanjunganom, lahan sempit bukan lagi penghalang untuk berkebun berkat inisiasi AIPTU Saktian Suryani, Bhabinkamtibmas Polsek Warujayeng. Ia mengajak warga binaannya memanfaatkan paralon bekas sebagai media vertikultur untuk menanam bawang putih dalam program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B). Selasa (5/5/2026), ia turun ke lapangan memantau pertumbuhan tanaman, memastikan tidak ada hama atau penyakit yang mengganggu, serta berdialog dengan warga tentang pengalaman mereka bercocok tanam secara vertikal. Metode ini menjadi primadona baru karena selain menghemat ruang, perawatannya pun tidak rumit dan hasilnya bisa langsung dipetik untuk kebutuhan dapur sehari-hari.

Kapolres Nganjuk, AKBP Suria Miftah Irawan, menilai bahwa urban farming dengan media paralon adalah terobosan yang patut dicontoh oleh wilayah urban lainnya. “Kami mendorong anggota untuk terus menghadirkan inovasi bersama masyarakat, terutama di wilayah urban yang lahannya terbatas, agar setiap sudut pekarangan tetap bisa dimanfaatkan menjadi sumber pangan keluarga,” ujarnya. Bawang putih memiliki siklus tanam yang relatif pendek, sekitar 60 hingga 90 hari, sehingga dalam satu tahun warga bisa melakukan beberapa kali panen. Dengan harga bawang putih yang sering melonjak di pasaran, memiliki stok sendiri dari kebun vertikal berarti menghemat pengeluaran belanja dapur sekaligus mendapatkan produk yang lebih sehat karena bebas residu pestisida kimia berlebihan.

Selama pemantauan, AIPTU Saktian Suryani mencatat bahwa sebagian besar tanaman bawang putih warga tumbuh dengan baik, ditandai dengan daun yang hijau segar dan umbi yang mulai membesar. Ia memberikan pendidikan singkat tentang pentingnya rotasi tanaman agar tanah dalam paralon tidak kehilangan nutrisi. Usai panen bawang putih, warga disarankan menanam tanaman lain seperti kangkung atau bayam yang memiliki siklus lebih pendek, lalu kembali menanam bawang putih pada siklus berikutnya. Warga Tanjunganom yang semula hanya iseng-iseng mencoba kini serius mengembangkan kebun vertikal mereka, bahkan beberapa orang telah menambah jumlah paralon hingga puluhan batang yang disusun rapi di sepanjang dinding pagar atau teras rumah.

Kapolsek Warujayeng, Kompol H. Ahmad Junaedi, menegaskan bahwa urban farming seperti ini adalah contoh nyata bahwa keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk tidak produktif. “Urban farming seperti ini menjadi contoh bahwa keterbatasan lahan bukan halangan untuk mendukung ketahanan pangan. Justru dengan inovasi, pekarangan sempit bisa menjadi lahan yang sangat produktif,” ujarnya. Melalui kegiatan pemantauan yang rutin, AIPTU Saktian Suryani berharap semakin banyak warga Tanjunganom yang tergugah untuk memanfaatkan setiap sudut rumahnya menjadi kebun sayur vertikal. Dari paralon berisi bawang putih inilah, kemandirian pangan keluarga mulai terwujud, satu panen, satu masakan, satu langkah kecil menuju Indonesia yang lebih tangguh pangan.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar