Tidak ada formula ajaib untuk membuat desa mandiri pangan, tetapi Desa Kepanjen di Nganjuk menemukan satu resep yang bekerja: Aipda Setyo Budi turun ke kandang sapi warga setiap pekan. Pada Jumat (15/5/2026), Bhabinkamtibmas Polsek Pace ini memantau langsung peternakan sapi binaannya, memastikan lahan pekarangan dimanfaatkan maksimal untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. Ia tidak datang sebagai komandan, melainkan sebagai pendamping yang ikut memeriksa kebersihan kandang, kesehatan ternak, dan pola perawatan—sambil berbincang santai dengan warga tentang untung rugi beternak.
AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, menyebut kegiatan ini sebagai contoh konkret pemberdayaan berbasis potensi lokal. “Kami berharap masyarakat semakin termotivasi,” ujarnya. Peternakan sapi milik warga dinilai sangat prospektif karena menjadi sumber protein sekaligus aset bernilai jual tinggi. Sementara itu, AKP Pujo Santoso, Kapolsek Pace, menegaskan bahwa seluruh Bhabinkamtibmas harus aktif mendampingi sektor produktif. “Kehadiran anggota di tengah masyarakat wajib memberi manfaat nyata,” tegasnya.
Yang menarik dari pemantauan kali ini adalah pendekatannya: tidak ada instruksi satu arah. Aipda Setyo Budi mendengar lebih banyak daripada berbicara, mencatat saran warga tentang pakan alternatif dan cara mencegah penyakit sapi. Hasilnya, warga merasa diperhatikan, bukan diperiksa. Peternakan pun dikelola dengan lebih percaya diri karena tahu ada yang mendampingi setiap langkah.
Cerita di Desa Kepanjen ini menutup dengan kesimpulan manis: ketahanan pangan bukan proyek besar yang rumit. Ia bisa dimulai dari satu Bhabinkamtibmas, satu pekarangan, satu kandang sapi, dan satu dialog hangat. Dan ketika semua itu berkelanjutan, maka pangan nasional pun aman dari akar rumputnya.(Avs)


0 Komentar