Jam menunjukkan pukul delapan pagi, antrean pemohon SIM mulai memanjang di Satpas Polres Nganjuk. Di tengah keramaian itu, puluhan siswa Latihan Kerja Bintara Brimob berdiri dengan canggung, menunggu instruksi. Rabu (6/5/2026) adalah hari pertama mereka benar-benar berhadapan langsung dengan publik, bukan dalam skenario latihan, tetapi dalam program Polantas Menyapa bersama Aipda Andik. Mereka akan belajar bahwa melayani dengan ramah di tengah tekanan antrean, kebingungan pemohon, dan terik matahari ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan.
Apa yang paling mengagetkan para siswa Latja? Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian menyebut bahwa tantangan terbesar ternyata bukan pada teknis ujian SIM, tetapi pada pengelolaan emosi sendiri. Dalam coaching clinic tersebut, Aipda Andik memberi contoh bagaimana tetap tersenyum meskipun pemohon keenam bertanya tentang hal yang sama, atau bagaimana membimbing dengan sabar meskipun peserta ujian praktik jatuh bangun karena panik. Para siswa Latja Brimob yang tadinya menganggap enteng tugas ini, setelah beberapa jam di lapangan, mulai berkeringat bukan karena fisik, tetapi karena berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa frustrasi di depan publik.
Aipda Andik kemudian meminta satu per satu siswa Latja untuk mengambil peran sebagai petugas pendamping ujian. Beberapa gagal di percobaan pertama karena nada suara masih terlalu keras seperti di barak latihan. Perlahan, setelah dikoreksi dan diberi contoh ulang, mereka mulai menemukan ritme yang tepat: suara yang cukup pelan tetapi jelas, instruksi yang pendek tetapi ramah, serta gerakan tangan yang mendorong, bukan menghakimi. Seorang siswa bahkan berhasil membuat seorang ibu paruh baya yang sempat ingin membatalkan ujian karena grogi menjadi percaya diri dan akhirnya lulus ujian praktik dengan nilai memuaskan.
AKP Ivan Danara Oktavian menutup sesi dengan penekanan bahwa menjadi polisi adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran tingkat dewa. "Kami ingin para siswa Latja merasakan langsung bahwa di balik setiap lembar SIM yang keluar, ada proses interaksi manusia yang kompleks," ujarnya. Sore hari, para calon Brimob itu pulang dengan tubuh lelah tetapi mata berbinar. Mereka telah belajar satu pelajaran fundamental: seragam cokelat atau biru tidak membuat seseorang otomatis disegani, tetapi keramahan dan kesabaranlah yang membuat masyarakat sungguh-sungguh merasa dilayani dengan baik.(Avs)


0 Komentar