SURABAYA - Di tengah hiruk pikuk persiapan mudik Lebaran, Polda Jawa Timur memilih untuk mengambil perspektif yang lebih luas dalam Operasi Ketupat Semeru 2026. Bukan sekadar memastikan arus kendaraan lancar, kepolisian justru menempatkan kekhusyukan ibadah sebagai prioritas utama. Kombes Pol Jules Abraham Abast, Kabid Humas Polda Jatim, menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat selama bulan Ramadhan, perayaan Idul Fitri, hingga umat Hindu menjalani Nyepi adalah fondasi yang harus dijaga. Arus lalu lintas, menurutnya, hanyalah dampak dari sebuah pergerakan sosial besar, sementara stabilitas di lingkungan warga dan rumah ibadah adalah hal fundamental yang tidak boleh terganggu.
Komitmen ini lahir dari pemahaman bahwa esensi mudik bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga tentang pencapaian spiritual. Polda Jatim bersama lintas sektor bergerak memastikan umat Muslim dapat menjalankan shalat Idul Fitri dengan tenang, serta umat Hindu dapat merayakan Tahun Baru Saka dengan khusyuk. "Mudik penting, namun khidmat ibadah dan stabilitas Kamtibmas adalah fondasi," tegas Kombes Abast yang juga menjabat sebagai Kasatgas Humas. Pernyataan ini menjadi landasan operasi yang dimulai sejak 13 Maret 2026, di mana personel tidak hanya disiagakan di titik-titik kemacetan, tetapi juga menyebar ke ribuan lokasi ibadah.
Data yang dirilis Polda Jatim menunjukkan skala pengamanan yang luar biasa. Sebanyak 18.365 lokasi shalat Idul Fitri, baik di masjid maupun lapangan terbuka, akan mendapat pengawasan ketat. Tak hanya itu, tempat-tempat yang berpotensi menjadi sumber gangguan Kamtibmas juga menjadi perhatian serius. Mulai dari 274 pusat perbelanjaan, 488 objek wisata, hingga 68 terminal dan puluhan pelabuhan, semuanya dipetakan untuk mengantisipasi potensi kerawanan. Bahkan, kepadatan antrean di SPBU pun masuk dalam radar pengamanan untuk mencegah gesekan antar pemudik.
Di balik pengamanan fisik, ada pesan moral yang ingin disampaikan Polda Jatim kepada masyarakat. Kombes Abast mengimbau para pemudik untuk tidak hanya fokus pada persiapan perjalanan, tetapi juga pada keamanan rumah yang ditinggalkan. Ia mendorong warga untuk aktif berkoordinasi dengan pengurus RT/RW dan petugas keamanan lingkungan setempat. "Mari kita bersama-sama wujudkan, Mudik Aman Keluarga Bahagia," pungkasnya. Ajakan ini menegaskan bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas polisi di lapangan.
Operasi Ketupat Semeru 2026 menjadi bukti bahwa pendekatan kepolisian modern tidak bisa lagi bersifat parsial. Dengan menggabungkan pengamanan arus mudik, ritual keagamaan, dan stabilitas sosial, Polda Jatim berupaya menciptakan rasa aman yang holistik. Masyarakat diharapkan dapat merasakan kehadiran negara tidak hanya di jalan raya, tetapi juga di setiap sudut kehidupan mereka selama hari-hari suci ini. Inilah wajah pelayanan publik yang sesungguhnya, di mana keamanan difungsikan untuk melindungi nilai-nilai fundamental kemanusiaan dan spiritualitas. (Avs)
.jpeg)

0 Komentar