Bukan perbatasan negara yang dijaga, melainkan batas antara air dan tanah kering di Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk. Rabu (15/4/2026), Brigadir Agung Pamuji dari Polri bersama Babinsa dan perangkat desa menyisir saluran irigasi dengan tujuan tunggal: memastikan tanaman jagung tidak mati sebelum panen. Ini adalah pergeseran paradigma tugas aparat dari keamanan statis menuju pemberdayaan ekonomi rakyat.
Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut bahwa ketahanan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari stabilitas nasional. Ketika petani gagal panen karena irigasi rusak, maka gejolak sosial bisa muncul. Karena itulah, pengecekan fungsi irigasi oleh Brigadir Agung dan tim bukanlah kegiatan seremonial, melainkan operasi nyata menjaga ketahanan dari akar rumput. Polri hadir untuk memastikan air sampai ke pangkal tanaman jagung.
Di lapangan, tim menemukan sedimen lumpur yang menumpuk di beberapa titik saluran. Tanpa banyak bicara, mereka turun membersihkan bersama warga. Kapolsek Warujayeng Kompol H. Ahmad Junaedi menambahkan bahwa kolaborasi seperti ini akan menjadi agenda rutin. Air yang mengalir lancar berarti petani tidak perlu membeli air mahal atau kehilangan musim tanam. Kehadiran aparat juga menjadi pemantau bahwa tidak ada pihak yang menyabotase fasilitas publik.
Dengan irigasi yang kembali normal, petani Malangsari bisa bernapas lega. Program ketahanan pangan nasional untuk komoditas jagung di Nganjuk mendapatkan suntikan tenaga dari aparat berseragam. Ke depan, sinergitas Polri, TNI, dan pemerintah desa ini diharapkan meluas ke desa-desa lain. Bukan hanya mengecek irigasi, tetapi juga mendampingi petani hingga panen raya. Itulah pengabdian yang berlumpur namun mulia.(Avs)
.jpeg)

0 Komentar