Dari Tongkol Jagung ke Buah Cabai, Petani Pace Buktikan Lahan Tak Pernah Tidur

Gemenggeng- Di tengah hembusan angin kemarau yang melanda Kecamatan Pace, sebuah pemandangan hijau menyegarkan terhampar di Desa Gemenggeng, di mana bekas lahan jagung kini berubah menjadi kebun cabai rawit yang menjanjikan. Para petani setempat tidak membiarkan waktu berlalu sia-sia setelah panen jagung rampung, melainkan langsung bergerak cepat menanam komoditas bernilai tinggi ini sebagai strategi mempertahankan produktivitas tanah. Pada Sabtu (15/08/2026), Bhabinkamtibmas Aipda Suyanto menyempatkan diri untuk berdialog dengan petani di tengah kebun, menyaksikan sendiri transformasi lahan yang semula dipenuhi tongkol jagung kini dihiasi tanaman cabai yang mulai berbunga. Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan dimulai dari langkah-langkah kecil namun konsisten di tingkat desa.


Percakapan hangat antara Aipda Suyanto dan petani mengungkap optimisme yang tinggi terhadap prospek cabai rawit, terutama karena harga di pasaran Nganjuk dinilai stabil dan menguntungkan. Petani menjelaskan bahwa pilihan menanam cabai rawit bukan tanpa pertimbangan, melainkan berdasarkan analisis sederhana tentang permintaan pasar dan siklus tanam yang relatif singkat. "Alhamdulillah untuk harga cabai sekarang cukup stabil, Ndan, tinggal bagaimana perawatannya supaya tanaman tetap bagus," ungkap petani dengan senyum penuh harap. Rotasi jagung-cabai ini menjadi bukti bahwa petani Indonesia memiliki kecerdasan adaptif yang patut diapresiasi.


Aipda Suyanto memberikan pujian dan semangat kepada petani, seraya menyelipkan pesan penting tentang perawatan intensif yang dibutuhkan tanaman cabai agar hasilnya maksimal. Ia menekankan bahwa pemupukan teratur dan pengendalian hama secara dini adalah kunci utama untuk menjaga kualitas buah cabai. "Kalau harga sedang stabil seperti ini tentu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, Pak. Perawatan rutin tetap dijaga, dan kalau ada kendala segera dicari solusi agar tanaman cabainya bisa tumbuh maksimal," ujarnya penuh perhatian. Pendampingan dari aparat kepolisian seperti ini memberikan rasa aman dan percaya diri bagi petani dalam mengelola usahataninya.


Tantangan terbesar yang dihadapi petani saat ini adalah keterbatasan air akibat musim kemarau yang berkepanjangan, namun Aipda Suyanto mengingatkan pentingnya pengelolaan air secara bijak. Ia menyarankan petani untuk memanfaatkan teknik irigasi tetes atau penutupan tanah dengan mulsa guna mengurangi penguapan dan menjaga kelembapan tanaman. Dengan strategi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, lahan bekas jagung di Gemenggeng ini diyakini akan terus memberikan hasil yang melimpah. Keberhasilan petani Pace ini menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk tidak pernah menyerah pada kondisi cuaca dan terus berkarya demi kesejahteraan bersama. (Avs)

Posting Komentar

0 Komentar