Bukan Sekadar Panen, Ini Saatnya Petani dan Polisi Merajut Kemakmuran Desa


Nganjuk- Sabtu pagi yang sejuk di Desa Ngadipiro menjadi saksi bisu kebersamaan yang jarang terlihat: seorang Bhabinkamtibmas berjongkok di antara tanaman jagung, mendengarkan curhat petani tentang harga pupuk dan ancaman hama. Bripka Yuli Priyanto datang bukan untuk memeriksa, melainkan untuk merasakan sendiri detak jantung pertanian rakyat, sesuai amanat Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan. Baginya, setiap helai daun jagung yang menguning adalah simbol harapan yang harus dijaga bersama.


Ketika berdialog dengan para petani, Bripka Yuli mencatat setiap detail kecil yang sering diabaikan, mulai dari intensitas curah hujan hingga kebiasaan petani dalam memilih bibit unggul. Ia juga menyempatkan diri membantu memeriksa kelembaban tanah dengan cara sederhana, sambil bercanda agar suasana tetap santai. Namun, di balik candanya, ia serius mengingatkan bahwa masa dua pekan menjelang panen adalah momen paling krusial yang menentukan kualitas dan kuantitas hasil.


Salah satu petani tua mengungkapkan perasaannya dengan mata berkaca-kaca, mengaku bahwa kedatangan polisi ke ladangnya membuat ia merasa dihargai sebagai tulang punggung ketahanan pangan. "Kami ini hanya orang kecil, tapi Pak Polisi mau repot-repot datang ke sini. Itu bagi kami sudah lebih dari cukup," ujarnya sembari mengelus batang jagung kesayangannya. Rasa syukur itu ia tularkan kepada petani lain yang mulai kehilangan semangat karena gagal panen tahun lalu.


Bripka Yuli pun tidak hanya berhenti pada nasihat teknis, tetapi juga menawarkan solusi jangka panjang dengan mengusulkan pembuatan kalender tanam bersama antarwarga. Ia menjelaskan bahwa dengan perencanaan yang teratur, risiko gagal panen bisa ditekan hingga 40 persen. Menurutnya, kunci ketahanan pangan bukan hanya di tangan pemerintah, tetapi juga dari kedisiplinan petani dalam mengelola lahan secara kolektif.


Di akhir pertemuan, para petani berjanji akan saling mengingatkan untuk tidak memanen terlalu dini atau terlalu lambat, karena keduanya sama-sama merugikan. Mereka juga sepakat untuk membentuk kelompok pantau hama yang akan bergiliran mengecek ladang setiap sore. Dengan semangat baru ini, mereka percaya bahwa panen kali ini bukan hanya tentang hasil jagung, tetapi tentang kebangkitan martabat petani di mata masyarakat Nganjuk.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar